
««•»»
Surah An Nuur 11
إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ
««•»»
inna alladziina jaauu bial-ifki 'ushbatun minkum laa tahsabuuhu syarran lakum bal huwa khayrun lakum likulli imri-in minhum maa iktasaba mina al-itsmi waalladzii tawallaa kibrahu minhum lahu 'adzaabun 'azhiimun
««•»»
Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar
{1032}.
{1032} Berita bohong ini mengenai istri Rasulullah s.a.w. `Aisyah r.a.
Ummul Mu`minin, sehabis perang dengan Bani Mushtaliq bulan Sya`ban 5 H.
Perperangan ini diikuti oleh kaum munafik, dan turut pula `Aisyah dengan
Nabi berdasarkan undian yang diadakan antara istri-istri beliau. dalam
perjalanan mereka kembali dari peperangan, mereka berhenti pada suatu
tempat. `Aisyah keluar dari sekedupnya untuk suatu keperluan, kemudian
kembali. tiba-tiba Dia merasa kalungnya hilang, lalu Dia pergi lagi
mencarinya. Sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa
`Aisyah masih ada dalam sekedup. setelah `Aisyah mengetahui, sekedupnya
sudah berangkat Dia duduk di tempatnya dan mengaharapkan sekedup itu
akan kembali menjemputnya. Kebetulan, lewat ditempat itu seorang sahabat
Nabi, Shafwan Ibnu Mu`aththal, diketemukannya seseorang sedang tidur
sendirian dan Dia terkejut seraya mengucapkan: "Inna lillahi wa inna
ilaihi raji`un, isteri Rasul!" `Aisyah terbangun. lalu Dia dipersilahkan
oleh Shafwan mengendarai untanya. Syafwan berjalan menuntun unta sampai
mereka tiba di Madinah. orang-orang yang melihat mereka membicarakannya
menurut Pendapat masing-masing. mulailah timbul desas-desus. kemudian
kaum munafik membesar- besarkannya, Maka fitnahan atas `Aisyah r.a.
itupun bertambah luas, sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum
muslimin.
««•»»
Indeed those who initiated the calumny are a band from among yourselves. Do not suppose it is bad for you. Rather it is for your good. Each man among them bears [the onus for] his share in the sin, and as for him who assumed its major burden from among them there is a great punishment for him.
««•»»
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa orang-orang yang menyiarkan berita bohong yang dilancarkan ke rumah tangga Rasulullah saw. itu, sebenarnya dari golongan kaum Muslimin sendiri, sebagaimana diketahui bahwa setelah junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw. kembali dari gazwah Muraizik bersama pasukannya pada bulan Sya'ban tahun ke lima hijrah, tersiarlah suatu berita bohong yang unik sekali yang ditujukan kepada rumah tangga Rasulullah saw yang dikenal dengan "Hadisul ifki".
Berita bohong ini mengenai istri Rasulullah saw 'Aisyah r.a. Ummul Mukminin, sehabis perang dengan Bani Mustaliq bulan Syakban 5 H. Peperangan itu, diikuti oleh kaum munafik, dan turut pula 'Aisyah dengan Nabi saw berdasarkan undian yang diadakan antara istri-istri beliau.
Dalam perjalanan mereka kembali dari peperangan mereka berhenti pada suatu tempat. 'Aisyah keluar dari sekedup (tempat duduk di atas unta) untuk suatu keperluan, kemudian kembali. Tiba-tiba dia merasa kalungnya hilang, lalu dia pergi lagi mencarinya.
Sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa 'Aisyah masih ada dalam sekedup. Setelah 'Aisyah mengetahui sekedupnya sudah berangkat, dia duduk di tempatnya dan mengharapkan sekedup itu akan kembali menjemputnya, dalam keadaan demikian diapun tertidur kebetulan lewat di tempat itu seorang sahabat Nabi Sofwan bin Mu'attal diketemukannya seseorang yang sedang tidur sendirian dan dia terkejut seraya mengucapkan, "Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'un, istri Rasul! "
`Aisyah terbangun lalu dipersilahkan oleh Sofwan mengendarai untanya. Sofwan berjalan menuntun unta sampai mereka tiba di Madinah. Orang-orang yang melihat mereka membicarakan menurut pendapat masing-masing. Mulailah timbul desas-desus. Kemudian kaum munafik membesar-besarkannya, maka fitnahan atas `Aisyah r.a. itupun bertambah luas, sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum Muslimin.
Allah SWT, menghibur hati mereka, agar mereka jangan menyangka bahwa peristiwa itu buruk dan merupakan bencana bagi mereka, tetapi hakikatnya pada kejadian itu adalah suatu hal yang baik bagi mereka karena dengan kejadian itu, mereka akan memperoleh pahala besar dan kehormatan dari Allah SWT. dengan diturunkannya Alquran yang menyatakan kebersihan mereka dari berita bohong itu, suatu bukti autentik yang dapat dibaca sepanjang masa.
Setiap orang yang menyebarkan berita bohong itu akan mendapat balasan, sesuai dengan usaha dan kegiatannya tentang tersiar luasnya berita bohong itu. Sedang orang yang menjadi sumber pertama dan menyebar luaskan berita bohong ini, ialah Abdullah bin Ubay bin Salul, sebagai seorang tokoh munafik yang tidak jujur, sedang di akhirat kelak akan diazab dengan azab yang pedih. Dosa semua orang yang turut dan ikut menyebar luaskan berita bohong itu akan terpikul juga di atas pundaknya,
Sebagaimana sabda Nabi saw.:
من سن سنة شر فأتبع عليها, كان عليه وزره ومثل أوزار من اتبع غير منقوص من أوزارهم شيئا.
Barangsiapa yang mengadukan perbuatan yang buruk dan ada yang mengikutinya, maka dosa perbuatannya itu akan dipikulnya bersama dosa orang-orang yang melakukan perbuatan buruk itu tanpa dikurangi sedikitpun.
(HR. Abdullah bin Jaris)
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
(Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong) kedustaan yang paling buruk yang dilancarkan terhadap Siti Aisyah r.a. Umulmukminin, ia dituduh melakukan zina (adalah dari golongan kalian juga) yakni segolongan dari kaum Mukmin. Siti Aisyah mengatakan, bahwa mereka adalah Hissan bin Tsabit, Abdullah bin Ubay, Misthah dan Hamnah binti Jahsy.
(Janganlah kalian kira bahwa berita bohong itu) hai orang-orang Mukmin selain dari mereka yang melancarkan tuduhan itu (buruk bagi kalian, tetapi hal itu mengandung kebaikan bagi kalian) dan Allah akan memberikan pahalanya kepada kalian. Kemudian Allah swt. menampakkan kebersihan Siti Aisyah r.a. Dan orang yang telah menolongnya yaitu Shofwan.
Sehubungan dengan peristiwa ini Siti Aisyah r.a. telah menceritakan, sebagai berikut, "Aku ikut bersama Nabi saw. dalam suatu peperangan, yaitu sesudah diturunkannya ayat mengenai hijab bagi kaum wanita. Setelah Nabi saw. menunaikan tugasnya, lalu ia kembali dan kota Madinah sudah dekat.
Pada suatu malam setelah istirahat Nabi saw. menyerukan supaya rombongan melanjutkan perjalanan kembali. Aku pergi dari rombongan untuk membuang hajat besarku. Setelah selesai, aku kembali ke rombongan yang sedang bersiap-siap untuk berangkat, akan tetapi ternyata kalungku putus/jatuh, lalu aku kembali lagi ke tempat buang hajat tadi untuk mencarinya. Mereka mengangkat sekedupku ke atas unta kendaraanku, karena mereka menduga bahwa aku telah berada di dalamnya. Karena kaum wanita pada saat itu beratnya ringan sekali, disebabkan mereka hanya makan sedikit.
Aku menemukan kembali kalungku yang hilang itu, lalu aku datang ke tempat rombongan, ternyata mereka telah berlalu. Lalu aku duduk di tempat semula, dengan harapan bahwa rombongan akan merasa kehilangan aku, lalu mereka kembali ke tempatku.
Mataku mengantuk sekali, sehingga aku tertidur; sedangkan Shofwan pada waktu itu berada jauh dari rombongan pasukan karena beristirahat sendirian. Kemudian dari tempat istirahatnya itu ia melanjutkan kembali perjalanannya menyusul pasukan. Ketika ia sampai ke tempat pasukan, ia melihat ada seseorang sedang tidur, lalu ia langsung mengenaliku, karena ia pernah melihatku sebelum ayat hijab diturunkan.
Aku terbangun ketika dia mengucapkan Istirja', 'yaitu kalimat Innaa Lillaahi Wa Innaa Ilaihi RaaJi'uuna'. Aku segera menutup wajahku dengan kain jilbab.
Demi Allah, sepatah kata pun ia tidak berbicara denganku, terkecuali hanya kalimat Istirja'nya sewaktu ia merundukkan hewan hendaraannya kemudian ia turun dengan berpijak kepada kaki depan untanya. Selanjutnya aku menaiki unta kendaraannya dan ia langsung menuntun kendaraannya yang kunaiki, hingga kami dapat menyusul rombongan pasukan, yaitu sesudah mereka beristirahat pada siang hari yang panasnya terik.
Akhirnya tersiarlah berita bohong yang keji itu, semoga binasalah mereka yang membuat-buatnya. Sumber pertama yang menyiarkannya adalah Abdullah bin Ubay bin Salul." Hanya sampai di sinilah kisah siti Aisyah menurut riwayat yang dikemukakan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Selanjutnya Allah berfirman,
("Tiap-tiap seseorang dari mereka) akan dibalas kepadanya (dari dosa yang dikerjakannya) mengenai berita bohong ini.
(Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu) maksudnya orang yang menjadi biang keladi dan berperanan penting dalam penyiaran berita bohong ini, yang dimaksud adalah Abdullah bin Ubay (baginya azab yang besar") yakni neraka kelak di akhirat.