Senin, 20 April 2015

[024] An Nuur Ayat 012

««•»»
Surah An Nuur 12

لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ
««•»»
lawlaa idz sami'tumuuhu zhanna almu/minuuna waalmu/minaatu bi-anfusihim khayran waqaaluu haadzaa ifkun mubiinun
««•»»
Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohon itu orang-orang mu'minin dan mu'minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata."
««•»»
When you [first] heard about it, why did not the faithful, men and women, think well of their folks, and say, ‘This is an obvious calumny’?
««•»»

Pada ayat ini, Allah SWT menerangkan bahwa Dia mencela tindakan orang-orang mukmin yang mendengar berita bohong itu yang seakan-akan mempercayainya. Mengapa mereka itu tidak menolak fitnahan itu secara spontan?. Mengapa mereka itu tidak mendahulukan baik sangkanya?. Iman mereka, semestinya membawa mereka untuk berbaik sangka, dan mencegah mereka berburuk sangka kepada sesama orang mukmin, karena baik atau buruk sesama mukmin, pada hakikatnya adalah juga baik atau buruk juga bagi dia sendiri,

sebagaimana firman Allah SWT:
ولا تلمزوا أنفسكم
Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri.
(QS. Al Hujuraat [49]:11)

Maksudnya, janganlah orang mukmin mencela sesama orang mukmin, karena orang mukmin itu seperti satu badan.

Rasulullah sendiri mencegah para sahabat mengadakan sangkaan yang tidak baik itu ketika beliau menjemput kedatangan Aisyah r.a, dengan mempergunakan unta Sofwan bin Mu'attal, di tengah hari bolong dan disaksikan oleh orang banyak, mencegah adanya sangkaan-sangkaan yang tidak sehat. Kalau ada desas-desus yang sifatnya negatif, sebenarnya itu adalah cetusan sangka mereka yang disembunyikan dan kebencian yang ditutupi selama ini.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Mengapa tidak, sewaktu kalian mendengar berita bohong itu orang-orang Mukmin dan Mukminat berprasangka terhadap diri mereka sendiri) sebagian dari mereka mempunyai prasangka terhadap sebagian yang lain (dengan sangkaan yang baik, dan mengapa tidak berkata, "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata") dan jelas bohongnya. Di dalam ayat ini terkandung ungkapan Iltifat dari orang-orang yang diajak bicara. Maksudnya, mengapa kalian hai golongan orang-orang yang menuduh, mempunyai dugaan seperti itu dan berani mengatakan hal itu?
««•»»
Why, when you [first] heard about it, did the believing men and women not think good of themselves, that is, [why did] some [not] think good of others, and say, ‘This is a manifest calumny?’, [this is] a patent lie? (there is a shift here in the address from the second to the third person), in other words, [why did] you [not] assume [good of them], O band [of believers] and say:
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 11][AYAT 13]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
12of64
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=24&tAyahNo=12&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#24:12

[024] An Nuur Ayat 011

««•»»
Surah An Nuur 11
إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ
««•»»
inna alladziina jaauu bial-ifki 'ushbatun minkum laa tahsabuuhu syarran lakum bal huwa khayrun lakum likulli imri-in minhum maa iktasaba mina al-itsmi waalladzii tawallaa kibrahu minhum lahu 'adzaabun 'azhiimun
««•»»
Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar {1032}.
{1032} Berita bohong ini mengenai istri Rasulullah s.a.w. `Aisyah r.a. Ummul Mu`minin, sehabis perang dengan Bani Mushtaliq bulan Sya`ban 5 H. Perperangan ini diikuti oleh kaum munafik, dan turut pula `Aisyah dengan Nabi berdasarkan undian yang diadakan antara istri-istri beliau. dalam perjalanan mereka kembali dari peperangan, mereka berhenti pada suatu tempat. `Aisyah keluar dari sekedupnya untuk suatu keperluan, kemudian kembali. tiba-tiba Dia merasa kalungnya hilang, lalu Dia pergi lagi mencarinya. Sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa `Aisyah masih ada dalam sekedup. setelah `Aisyah mengetahui, sekedupnya sudah berangkat Dia duduk di tempatnya dan mengaharapkan sekedup itu akan kembali menjemputnya. Kebetulan, lewat ditempat itu seorang sahabat Nabi, Shafwan Ibnu Mu`aththal, diketemukannya seseorang sedang tidur sendirian dan Dia terkejut seraya mengucapkan: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji`un, isteri Rasul!" `Aisyah terbangun. lalu Dia dipersilahkan oleh Shafwan mengendarai untanya. Syafwan berjalan menuntun unta sampai mereka tiba di Madinah. orang-orang yang melihat mereka membicarakannya menurut Pendapat masing-masing. mulailah timbul desas-desus. kemudian kaum munafik membesar- besarkannya, Maka fitnahan atas `Aisyah r.a. itupun bertambah luas, sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum muslimin.
««•»»
Indeed those who initiated the calumny are a band from among yourselves. Do not suppose it is bad for you. Rather it is for your good. Each man among them bears [the onus for] his share in the sin, and as for him who assumed its major burden from among them there is a great punishment for him.
««•»»

Pada ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa orang-orang yang menyiarkan berita bohong yang dilancarkan ke rumah tangga Rasulullah saw. itu, sebenarnya dari golongan kaum Muslimin sendiri, sebagaimana diketahui bahwa setelah junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw. kembali dari gazwah Muraizik bersama pasukannya pada bulan Sya'ban tahun ke lima hijrah, tersiarlah suatu berita bohong yang unik sekali yang ditujukan kepada rumah tangga Rasulullah saw yang dikenal dengan "Hadisul ifki".

Berita bohong ini mengenai istri Rasulullah saw 'Aisyah r.a. Ummul Mukminin, sehabis perang dengan Bani Mustaliq bulan Syakban 5 H. Peperangan itu, diikuti oleh kaum munafik, dan turut pula 'Aisyah dengan Nabi saw berdasarkan undian yang diadakan antara istri-istri beliau.

Dalam perjalanan mereka kembali dari peperangan mereka berhenti pada suatu tempat. 'Aisyah keluar dari sekedup (tempat duduk di atas unta) untuk suatu keperluan, kemudian kembali. Tiba-tiba dia merasa kalungnya hilang, lalu dia pergi lagi mencarinya.

Sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa 'Aisyah masih ada dalam sekedup. Setelah 'Aisyah mengetahui sekedupnya sudah berangkat, dia duduk di tempatnya dan mengharapkan sekedup itu akan kembali menjemputnya, dalam keadaan demikian diapun tertidur kebetulan lewat di tempat itu seorang sahabat Nabi Sofwan bin Mu'attal diketemukannya seseorang yang sedang tidur sendirian dan dia terkejut seraya mengucapkan, "Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'un, istri Rasul! "

`Aisyah terbangun lalu dipersilahkan oleh Sofwan mengendarai untanya. Sofwan berjalan menuntun unta sampai mereka tiba di Madinah. Orang-orang yang melihat mereka membicarakan menurut pendapat masing-masing. Mulailah timbul desas-desus. Kemudian kaum munafik membesar-besarkannya, maka fitnahan atas `Aisyah r.a. itupun bertambah luas, sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum Muslimin.

Allah SWT, menghibur hati mereka, agar mereka jangan menyangka bahwa peristiwa itu buruk dan merupakan bencana bagi mereka, tetapi hakikatnya pada kejadian itu adalah suatu hal yang baik bagi mereka karena dengan kejadian itu, mereka akan memperoleh pahala besar dan kehormatan dari Allah SWT. dengan diturunkannya Alquran yang menyatakan kebersihan mereka dari berita bohong itu, suatu bukti autentik yang dapat dibaca sepanjang masa.

Setiap orang yang menyebarkan berita bohong itu akan mendapat balasan, sesuai dengan usaha dan kegiatannya tentang tersiar luasnya berita bohong itu. Sedang orang yang menjadi sumber pertama dan menyebar luaskan berita bohong ini, ialah Abdullah bin Ubay bin Salul, sebagai seorang tokoh munafik yang tidak jujur, sedang di akhirat kelak akan diazab dengan azab yang pedih. Dosa semua orang yang turut dan ikut menyebar luaskan berita bohong itu akan terpikul juga di atas pundaknya,

Sebagaimana sabda Nabi saw.:
من سن سنة شر فأتبع عليها, كان عليه وزره ومثل أوزار من اتبع غير منقوص من أوزارهم شيئا.
Barangsiapa yang mengadukan perbuatan yang buruk dan ada yang mengikutinya, maka dosa perbuatannya itu akan dipikulnya bersama dosa orang-orang yang melakukan perbuatan buruk itu tanpa dikurangi sedikitpun.
(HR. Abdullah bin Jaris)

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong) kedustaan yang paling buruk yang dilancarkan terhadap Siti Aisyah r.a. Umulmukminin, ia dituduh melakukan zina (adalah dari golongan kalian juga) yakni segolongan dari kaum Mukmin. Siti Aisyah mengatakan, bahwa mereka adalah Hissan bin Tsabit, Abdullah bin Ubay, Misthah dan Hamnah binti Jahsy.

(Janganlah kalian kira bahwa berita bohong itu) hai orang-orang Mukmin selain dari mereka yang melancarkan tuduhan itu (buruk bagi kalian, tetapi hal itu mengandung kebaikan bagi kalian) dan Allah akan memberikan pahalanya kepada kalian. Kemudian Allah swt. menampakkan kebersihan Siti Aisyah r.a. Dan orang yang telah menolongnya yaitu Shofwan.

Sehubungan dengan peristiwa ini Siti Aisyah r.a. telah menceritakan, sebagai berikut, "Aku ikut bersama Nabi saw. dalam suatu peperangan, yaitu sesudah diturunkannya ayat mengenai hijab bagi kaum wanita. Setelah Nabi saw. menunaikan tugasnya, lalu ia kembali dan kota Madinah sudah dekat.

Pada suatu malam setelah istirahat Nabi saw. menyerukan supaya rombongan melanjutkan perjalanan kembali. Aku pergi dari rombongan untuk membuang hajat besarku. Setelah selesai, aku kembali ke rombongan yang sedang bersiap-siap untuk berangkat, akan tetapi ternyata kalungku putus/jatuh, lalu aku kembali lagi ke tempat buang hajat tadi untuk mencarinya. Mereka mengangkat sekedupku ke atas unta kendaraanku, karena mereka menduga bahwa aku telah berada di dalamnya. Karena kaum wanita pada saat itu beratnya ringan sekali, disebabkan mereka hanya makan sedikit.

Aku menemukan kembali kalungku yang hilang itu, lalu aku datang ke tempat rombongan, ternyata mereka telah berlalu. Lalu aku duduk di tempat semula, dengan harapan bahwa rombongan akan merasa kehilangan aku, lalu mereka kembali ke tempatku.

Mataku mengantuk sekali, sehingga aku tertidur; sedangkan Shofwan pada waktu itu berada jauh dari rombongan pasukan karena beristirahat sendirian. Kemudian dari tempat istirahatnya itu ia melanjutkan kembali perjalanannya menyusul pasukan. Ketika ia sampai ke tempat pasukan, ia melihat ada seseorang sedang tidur, lalu ia langsung mengenaliku, karena ia pernah melihatku sebelum ayat hijab diturunkan.

Aku terbangun ketika dia mengucapkan Istirja', 'yaitu kalimat Innaa Lillaahi Wa Innaa Ilaihi RaaJi'uuna'. Aku segera menutup wajahku dengan kain jilbab.

Demi Allah, sepatah kata pun ia tidak berbicara denganku, terkecuali hanya kalimat Istirja'nya sewaktu ia merundukkan hewan hendaraannya kemudian ia turun dengan berpijak kepada kaki depan untanya. Selanjutnya aku menaiki unta kendaraannya dan ia langsung menuntun kendaraannya yang kunaiki, hingga kami dapat menyusul rombongan pasukan, yaitu sesudah mereka beristirahat pada siang hari yang panasnya terik.

Akhirnya tersiarlah berita bohong yang keji itu, semoga binasalah mereka yang membuat-buatnya. Sumber pertama yang menyiarkannya adalah Abdullah bin Ubay bin Salul." Hanya sampai di sinilah kisah siti Aisyah menurut riwayat yang dikemukakan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Selanjutnya Allah berfirman,
("Tiap-tiap seseorang dari mereka) akan dibalas kepadanya (dari dosa yang dikerjakannya) mengenai berita bohong ini.

(Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu) maksudnya orang yang menjadi biang keladi dan berperanan penting dalam penyiaran berita bohong ini, yang dimaksud adalah Abdullah bin Ubay (baginya azab yang besar") yakni neraka kelak di akhirat.
««•»»
Truly those who initiated the slander, the worst calumny against ‘Ā’isha — mother of the believers, may God be pleased with her — accusing her [of fornication], are a band from among yourselves, a group from among the believers. She said [that these were] Hassān b. Thābit, ‘Abd Allāh b. Ubayy, Mistah [b. Uthātha], and Hamna bt. Jahsh.

Do not suppose, O you believers other than the [mentioned] band, that it is bad for you; rather it is good for you, for God will reward you for it and reveal ‘Ā’isha’s innocence and [the innocence of] the one who [is supposed to have] committed it with her, namely, Safwān [b. al-Mu‘attal]. She [‘Ā’isha] related: ‘I accompanied the Prophet (s) during a raid, and this was after the [requirement to wear the] veil had been revealed.

When he was through with it [the raid], he headed back [to the campsite] and one night, having drawn close to Medina, he announced that all should march off [home]. So I walked a distance [away from the campsite] and relieved myself. But when I came back to the campsite, [I realised that] my necklace (‘iqd meaning qilāda) had snapped. So I went back to look for it. In the meantime they had strapped my litter’ — in which one rides — ‘thinking that I was inside, for in those days women were slight and ate very small portions (‘ulqa). [Finally] I found my necklace, but when I went back to where I had been staying overnight, they had already departed.

I sat in the place where I had camped; I assumed that the group would notice my absence and come back for me. But my eyes were overcome [by drowsiness] and I fell asleep. Safwān had pitched camp behind the army to rest for some of the night (‘arrasa), then set off while it was still night until he reached the site of the camp. He saw what looked like a person sleeping and recognised me when he [eventually] saw me, having seen me on numerous occasions before the [requirement of the] veil. I woke up to the sound of him saying, ‘To God we belong and to Him we shall surely return’ (innā li’Llāhi wa-innā ilayhi rāji‘ūn), for he had recognised me. So I concealed my face with my gown (jilbāb) — in other words, I covered it up with my wrap (mulā’a).

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 10][AYAT 12]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
11of64
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=24&tAyahNo=11&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#24:11